Laporan Kelompok 1 Menanam Pohon Bernilai Ekonomis Tinggi
Laporan Kelompok 1 Menanam Pohon Bernilai Ekonomis Tinggi
Laporan Praktikum Ekonomi Sumber Daya Hutan
Medan, Maret 2021
MENANAM POHON BERNILAI
EKONOMIS TINGGI
Dosen Penanggung Jawab :
Dr. Agus Purwoko,
S.Hut., M.Si
Disusun Oleh :
|
Ade Nurul
Fadhilah Tumanggor |
191201063 |
|
Zulhajji Ashraff |
191201072 |
|
Nurul Fahma |
191201085 |
|
Kevin Sitorus |
191201097 |
|
Mahla Rose
Alba Auri |
191201208 |
Kelompok 1 HUT 4D
PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan
Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan karunia-Nya
penulis dapat menyelesaikan Laporan
Praktikum yang berjudul ” Menanam Pohon
Bernilai Ekonomis Tinggi “ ini dengan tepat waktu. Laporan ini dimaksudkan
untuk memenuhi tugas Praktikum
Ekonomi Sumber Daya Hutan sebagai syarat masuk Praktikum Ekonomi Sumber Daya Hutan di minggu yang akan datang.
Penulis
mengucapkan terima kasih kepada Dosen Penanggungjawab Praktikum
Ekonomi Sumber Daya Hutan Dr. Agus Purwoko, S.Hut.,
M.Si karena
telah memberikan materi dengan baik dan benar. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada asisten Praktikum yang telah memberikan bimbingan
dan arahan selama kami mengikuti kegiatan praktikum ini. Penyelesaian laporan
ini dengan memperoleh berbagai informasi dari berbagai pihak, baik dari sumber buku, asisten, dan teman-teman.
Penulis menyadari bahwa laporan ini
masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu,
saran dan kritik dari berbagai pihak dalam upaya untuk memperbaiki isi
laporan ini akan sangat penulis hargai. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.
Medan, Maret 2021
Penulis
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Hutan
adalah suatu lapangan
bertumbukan pohon-pohon yang secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup
hayati beserta alam lingkungannya dan yang
ditetapkan pemerintah sebagai hutan. Hutan dipandang dari sudut ekonominya adalah lahan, vegetasi
bersama semua komponen
hayatinya serta lingkungan iu sendiri sebagai
sumbrdaya ekonomi yang pada akhir-akhir ini tidak dapat diabaikan. Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari tentang
tingkah laku manusia
dalam melakukan pilihan
ddari berbagai alternatif. Dengan demikian ekonomi
sumberdaya hutan adalah ilmu
yang mempelajari tingkah
laku manusia dalam memanfaatkan hutan, sehingga fungsinya
dapat dipertahankan dan ditingkatkan
dalam jangka panjang. Ada dasarnya ekonomi sumberdaya hutan tidak berbeda dengan ilmu penegetahuan ekonomi pada umumnya, karena sumberdaya hutan mengandung sifat-sifat khas sehingga dapat dipahami ( Antoh,
2015 ).
Hutan adalah suatu lapangan bertumbuhan pohon-pohon yang secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati beserta alam lingkungannya dan yang ditetapkan pemerintah sebagai hutan. Jika pengertian hutan ditinjau dari sudut pandang sumberdaya ekonomi terdapat sekaligus tiga sumberdaya ekonomi, yaitu: lahan, vegetasi bersama semua komponen hayatinya serta lingkungan itu sendiri sebagai sumberdaya ekonomi yang pada akhir-akhir ini tidak dapat diabaikan. Sedangkan kehutanan diartikan sebagai segala pengurusan yang berkaitan dengan hutan, mengandung sumberdaya ekonomi yang beragam dan sangat luas pula dari kegiatan-kegiatan yang bersifat biologis seperti rangkain proses silvikultur sampai dengan berbagai kegiatan administrasi pengurusan hutan. Hal ini berarti kehutanan sendiri merupakan sumberdaya yang mampu menciptakan sederetan jasa yang bermanfaat bagi masyarakat. Pembangunan ekonomi mempunyai arti bahwa suatu proses kenaikan pendapatan total dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan penduduk dan disertai dengan perubahan fundamental dalam strukturekonomi suatu negara dan pemerataan pendapatan bagi penduduk suatu negara ( Yulizar, 2014 ).
Selama
ini HHBK seolah dipandang sebelah
mata dan hanya dianggap sebagai hasil hutan ikutan. Hal ini tidak
lepas dari besarnya variasi jenis HHBK, sehingga
tidak ada penanganan yang fokus dan terarah
sebagaimana pada produk kayu bulat. Akibatnya, kebanyakan HHBK tidak terkelola
secara memadai agar memiliki nilai eknonomi dan nilai tambah yang tinggi.
Ada dasarnya ekonomi
sumberdaya hutan tidak berbeda dengan ilmu penegetahuan ekonomi pada
umumnya, karena sumberdaya hutan
mengandung sifat-sifat khas sehingga dapat dipahami. Baru dalam beberapa tahun terahir ini,
setelah era keemasan kayu bulat terlewati dengan meninggalkan banyak masalah akibat degradasi hutan yang luar
biasa berat, HHBK mulai mendapat
perhatian yang lebih serius
( Tamin, 2017 ).
Kegiatan penanaman merupakan kegiatan
inti dari budidaya hutan. Hutan yang
mencakup areal yang luas, memerlukan biaya yang besar sehingga diperlukan ketrampilan yang cukup. Kegiatan penanaman
meliputi Pemilihan jenis, persiapan lapangan, pemasangan ajir, pembuatan lubang tanam, pengangkutan bibit, penanaman, penyulaman serta pemeriksaan pekerjaan
dan evaluasi penanaman. Kegiatan penanaman mempunyai beberapa macam tujuan diantaranya
untuk tujuan penanaman rutin, penanaman pengayaan, reboisasi atau penghijauan serta untuk tujuan konservasi. Selain itu, penanaman
juga mempunyai tujuan untuk mendapatkan tegakan
yang sehat serta memiliki persediaan tanaman yang cukup di masa yang akan datang. Tanaman yang sehat dapat
dihasilkan dari bibit yang sehat pula. Maka setiap unit penanaman dianjurkan untuk memilih bibit yang siap ditanam di lapangan (Cahyono,
2012).
Tujuan dari praktikum Ekonomi Sumber Daya Hutan yang berjudul ”Menanam Pohon Bernilai Ekonomis Tinggi” ini adalah untuk mengetahui nilai ekonomis dari masing-masing pohon dan juga manfaatnya.
TINJAUAN PUSTAKA
Hutan adalah sebuah kawasan yang ditumbuhi dengan lebat oleh pepohonan dan tumbuhan lainnya. Kawasan-kawasan semacam ini terdapat di wilayah-wilayah yang luas di dunia dan berfungsi sebagai penampung karbon dioksida (carbon dioxide sink), habitat hewan, modulator arus hidrologika, serta pelestari tanah, dan merupakan salah satu aspek biosfer bumi yang paling penting. Hutan adalah bentuk kehidupan yang tersebar di seluruh dunia. Kita dapat menemukan hutan baik di daerah tropis maupun daerah beriklim dingin, di dataran rendah maupun di pegunungan, di pulau kecil maupun di benua besar. Hutan merupakan suatu kumpulan tumbuhan dan juga tanaman, terutama pepohonan atau tumbuhan berkayu lain, yang menempati daerah yang cukup luas. Hutan adalah suatu lapangan bertumbuhan pohon-pohon yang secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati beserta alam lingkungannya dan yang ditetapkan pemerintah sebagai hutan (Fauzi, 2011 ).
Jika pengertian hutan ditinjau dari sudut pandang
sumberdaya ekonomi terdapat sekaligus tiga sumberdaya ekonomi
yaitu : lahan, vegetasi bersama semua komponen
hayatinya serta lingkungan itu sendiri sebagai sumberdaya ekonomi yang pada akhir-akhir ini tidak dapat
diabaikan. Sedangkan kehutanan diartikan sebagai segala pengurusan yang berkaitan dengan hutan, mengandung
sumberdaya ekonomi yang beragam dan sangat luas pula dari kegiatan-kegiatan yang bersifat biologis seperti rangkaian proses silvikultur
sampai dengan berbagai kegiatan administrasi
pengurusan hutan. Hal ini berarti kehutanan sendiri merupakan sumberdaya yang mampu menciptakan sederetan jasa yang bermanfaat bagi masyarakat (Antoh,
2015).
Penggunaan sumber daya alam untuk masa mendatang merupakan menjaga ketersediaan sumber daya alam agar dapat dimanfaatkan di masa mendatang. Pengertian dari sumber daya alam itu sendiri adalah segala sesuatu yang berada di bawah maupun di atas bumi dan belum dilibatkan dalam proses produksi. Sedangkan barang sumber daya alam adalah sumber daya alam yang sudah diambil dari bumi dan digunakan sebagai faktor produksi. Dalam penggalian sumber-sumber alam untuk keperluan pembangunan ekonomi, harus diusahakan agar supaya tidak merusak tata lingkungan manusia, dilaksanakan dengan kebijaksanaan yang menyeluruh, dan memperhitungkan kebutuhan generasi yang akan datang. Demikian besar peranan lingkungan dalam pembangunan ekonomi sehingga dikhawatirkan pembangunan itu sendiri akan mengalami stagnasi, karena sumber daya alamnya sudah demikian buruk, karena menggebunya pembangunan yang dilaksanakan atau karena pertumbuhan penduduk yang cepat sehingga tidak terpikirkan pelestarian dari sumber daya alam itu sendiri ( Kosasih, 2011 ).
Sumber daya material individu,
masyarakat, dan negara untuk meningkatkan kesejahteraan
hidup manusia. Karena ekonomi merupakan ilmu tentang perilaku dan tindakan
manusia untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya yang bervariasi dan berkembang
dengan sumber daya yang ada melalui pilihan-pilihan kegiatan produksi, konsumsi
dan atau distribusi. Sedangkan
pembangunan ekonomi mempunyai
arti bahwa suatu proses kenaikan
pendapatan total dan pendapatan perkapita
dengan memperhitungkan adanya pertambahan penduduk
dan disertai dengan perubahan fundamental dalam struktur ekonomi suatu
negara dan pemerataan pendapatan bagi penduduk
suatu negara. Sumber daya alam memberikan peranan terhadap kegiatan ekonomi. Kebutuhan baik itu rumah tangga
maupun perusahaan semuanya dipastikan diperoleh dari alam, dimana perusahaan akan meningkatkan nilai ekonomi dari sumberdaya
alam dan lingkungan yang dieksploitasi dengan cara memproduksinya. Dari hasil produksi
akan ada dua produk yang dihasilkan yang pertama produk konsumsi dan yang kedua sisa
hasil produksi ( residu ) ( Supriadi, 2018 ).
Sumberdaya hutan berperan sebagai penggerak ekonomi dapat teridentifikasi dalam beberapa hal, yaitu: pertama, penyediaan devisa untuk membangun sektor lain yang membutuhkan teknologi dari luar negeri; kedua, penyediaan hutan dan lahan sebagai modal awal untuk pembangunan berbagai sektor, terutama untuk kegiatan perkebunan, industri dan sektor ekonomi lainnya; dan yang ketiga, peran kehutanan dalam pelayanan jasa lingkungan hidup dan lingkungan sosial masyarakat. Ketiga bentuk peranan tersebut berkaitan dengan peranan sumberdaya hutan sebagai penggerak ekonomi yang sangat potensial, sangat kompleks dan saling terkait. Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku manusia dalam melakukan pilihan dari berbagai alternatif. Dengan demikian ekonomi sumberdaya hutan adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam memanfaatkan sumberdaya hutan, sehingga fungsinya dapat dipertahankan dan ditingkatkan dalam jangka panjang ( Budiningsih, 2012 ).
Pertumbuhan ekonomi yang cepat memerlukan barang sumber daya yang banyak namun dapat mengurangi sumber daya
alam di bumi. Teori ekonomi yang digunakan
dalam pertumbuhan ekonomi yang berkaitan dengan sumber daya alam adalah fungsi produksi. Ada delapan isu
penting yang berkaitan dengan sumber daya alam yaitu persediaan untuk kebutuhan manusia,
lokasi persediaan, pergeseran ketersediaan sumber daya alam, kebijakan penggunaan, peranan
sumber daya alam dan lingkungan,
kualitas, kerusakan lingkungan dan mekanisme pasar. Ekonomi SDH adalah suatu bidang penerapan alat-alat
analisis ekonomi terhadap persoalan adalah suatu bidang penerapan alat-alat
analisis ekonomi terhadap
persoalan produksi, permintaan, penawaran, biaya produksi,
penentuan harga termasuk
dalam kajian ekonomi mikro dan masalah kesejahteraan
masyarakat (kesempatan kerja, pendapatan produk
domestik dan pertumbuhan ekonomi) yang termasuk dalam kajian ekonomi makro ( Damayatanti, 2011 ).
Kajian ekonomi mikro dalam ekonomi SDH
untuk menjawab barang dan jasa hasil
hutan apa yang diproduksi sehingga dapat menguntungkan unit usaha (bisnis) sebagai pelaku usaha, sedangkan kajian
ekonomi makro akan menjawab bagaimana sumberdaya hutan dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat dalam pengertian bahwa sumberdaaya hutan telah
memberikan kontribusi bagi tersedianya lapangan kerja. Sebagai penggerak
sektor ekonomi lainnya,
maka hasil hutan memberi
dukungan modal bagi pembangunan infrastruktur industri dalam negeri dan untuk penyediaan teknologi yang berasal
dari impor. Pertumbuhan ekonomi yang cepat memerlukan barang sumber daya yang banyak namun dapat mengurangi sumber daya alam di bumi. Ada delapan
isu penting yang berkaitan dengan sumberdaya
alam ( Sukendro, 2012 ).
METODE PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat
Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan yang berjudul ” Menanam Pohon Bernilai Ekonomis Tinggi ” ini dilaksanakan pada hari Jumat, 19 Maret 2021, pukul 08.00 WIB sampai dengan selesai. Praktikum ini dilakukan di rumah masing-masing secara daring melalui aplikasi google meet.
Alat yang digunakan
pada praktikum ” Menanam Pohon
Bernilai Ekonomis Tinggi
“ ini adalah laptop.
Bahan yang digunakan adalah
Meranti( Shorea spp.
) dan Damar(Agathis
dammara ).
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Hasil
Adapun hasil yang diperoleh
dari Praktikum Ekonomi
Sumberdaya Hutan
yang berjudul ”Menanam Pohon Bernilai Ekonomis Tinggi” adalah sebagai berikut.
Meranti ( Shorea spp. )
![]() |
|||
Damar ( Agathis dammara )
Pembahasan
Meranti merupakan salah satu kayu komersial yang sudah banyak
dikenal oleh berbagai negara Asia
Tenggara dengan berbagai nama perdagangan, terutama jenis meranti merah (Shorea spp). Meranti
merah termasuk jenis endemik di Indonesia diantaranya terancam punah yaitu S. leprosula
(Kalimantan), S. ovalis (Kalimantan) dan S. selanica (Maluku) yang masuk ke dalam daftar merah IUCN. Meranti (Shorea spp.) adalah komoditas penting yang merupakan salah satu
jenis tanaman komersil penghasil kayu utama di Indonesia. Marga Shorea atau yang secara
umum disebut kelompok
meranti merupakan salah satu marga dari suku Dipterocarpaceae yang tumbuh di dataran rendah.
Dalam dunia perdagangan, kelompok meranti dibagi menjadi empat kelompok besar yaitu :
kelompok meranti merah, kelompok meranti kuning, kelompok
meranti putih, dan kelompok balau.
Kayu meranti menjadi primadona dalam
perdagangan kayu sehingga kayu dari jenis meranti memiliki nilai
perdagangan yang tinggi dan sangat terkenal. Kayu meranti merupakan salah satu jenis kayu yang paling banyak digunakan dalam kebutuhan
manusia. Selain kayunya, beberapa jenis shorea dikenal sebagai penghasil buah yang memiliki
nilai perdagangan yang dikenal dengan buah tengkawang. Tengkawang dipergunakan sebagai bahan dasar pembuatan coklat,
kosmetik, industri margarin, sabun, dan lilin.
Terkait
dengan kebutuhan kayu, maka
beberapa jenis pohon banyak yang dimanfaatkan
untuk memenuhi kebutuhan kayu: salah satunya jenis meranti termasuk penghasil kayu bernilai ekonomi tinggi,
disamping jenis lainnya dalam satu famili seperti
Keruing, Kapur, Mersawa, Merawan, Bangkirai dan Balau. Meranti memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan berperan penting
dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Namun, keberadaan tumbuhan endemik ini sudah hampir
punah. Perlu dilakukan tindakan untuk
melestarikan jenis, sehingga keberadaannya masih dapat dipertahankan. Arboretum memiliki
peranan penting dalam mempertahankan kelestarian jenis-jenis pohon termasuk
jenis pohon meranti.
Dengan mengetahui ketersediaan jumlah permudaan meranti
di arboretum, maka dapat diduga besar potensi
meranti dalam beberapa tahun ke depan.
Semakin cepat laju kerusakan hutan yang terjadi diperkirakan mencapai 1.08 juta hektar hutan per tahun, karena itu rehabilitasi diperlukan sebagai pemulihan sumberdaya hutan. Rehabilitasi dapat dilakukan dengan menanam jenis lokal yang tumbuh secara alami, seperti halnya S. mecistopteryx yang tumbuh sangat baik di Kalimantan sehingga dapat digunakan untuk upaya rehabilitasi hutan dan lahan di Kalimantan. Upaya mengembalikan jumlah meranti merah ke dalam status tetap lestari di latar belakangi dengan permintaan hasil kayu maupun bukan kayu yang masih tinggi, meranti merah memiliki permintaan sebesar 75% dalam perdagangan kayu komersial kelas awet sedang sampai kuat karena melihat sifat dari jenis meranti merah yaitu jenis yang cepat tumbuh pada tumbuhan lokal Kalimantan dan memiliki struktur batang pohon yang lurus dan silindris sehingga jenis ini banyak digunakan dalam produksi kayu lapis, penghasil damar kualitas bagus (S. mecistopteryx), kayu furniture, maupun kayu pertukangan. Manfaat yang cukup tinggi dari meranti merah sehingga dalam penanaman perlu optimalisasi yang salah satunya intensitas cahaya matahari yang tepat karena tanaman meranti adalah jenis gap opportunist dimana cahaya merupakan faktor pembatas bagi awal pertumbuhannya.
Pertumbuhan meranti dipengaruhi oleh
berbagai faktor salah satunya intesitas cahaya,
intesitas cahaya berperan penting dalam penerimaan energi bagi tanaman melalui fotosintesis dengan penyerapan
langsung foton oleh molekul-molekul pigmen
seperti klorofil. Maka dalam penanaman perlu dilakukan kontrol cahaya
yang sesuai sehingga pertumbuhan meranti merah dapat mencapai pertumbuhan yang optimal.
Manfaat Meranti:
·
Batangnya Untuk papan partikel,
harbor, dan venir untuk kayu lapis. Selain itu,
kayu olahan dari kayu meranti ini cocok untuk dijadikan bubur kayu, bahan utama pembuatan
kertas.
·
Buah dan daunnya sebagai
obat pusing (di Meksiko), mengurangi radang ginjal, kandung
kemih, dan antidiare
(di Cina), menyembuhkan penyakit anjing gila
(di India), getahnya dapat dapakai sebagai obat kutilan (gangguan pada kulit).
Damar merupakan salah satu genus Agathis yang tumbuh secara alami di Papua. Jenis ini memiliki pertumbuhan alami yang cukup baik dan telah dipilih untuk di kembangkan dalam bentuk hutan produksi. Salah satu jenis kayu yang diusahakan pada Hutan Tanaman Industri (HTI) diantaranya adalah Agathis sp., karena selain menghasilkan kayu sebagai bahan baku utama, tanaman ini juga mengeluarkan getah yang mempunyai peran penting dalam beberapa bidang industri. Getah dari tanaman Agathis biasa disebut dengan kopal. Kopal mempunyai peranan penting pada beberapa industri seperti: industri vernis, perekat, plastik dan tekstil. Pemanfaatan hutan yang semena-mena dapat menimbulkan kerugian bagi manusia itu sendiri, sebaliknya pemanfaatan hutan yang teratur akan menjamin kelangsungan hidup masyarakat yang ada di sekitar hutan tersebut. Untuk pemanfaatan hutan yang teratur diperlukan suatu pengelolaan yang baik dengan prinsip kelestarian serta membutuhkan waktu yang relatif panjang.
Damar ( Agathis dammara ) merupakan jenis tumbuhan yang termasuk dalam famili Araucariaceae merupakan salah satu
jenis tanaman hutan yang tumbuh secara alami.
Tanaman ini memiliki batang yang silindris dapat mencapai tinggi 60 m. Kulit luar batang mengelupas dalam keping-keping
kecil. Pohon damar (Agathis dammara (Lamb.) Rich.) adalah sejenis pohon
anggota tumbuhan runjung (Gymnospermae) yang
merupakan tumbuhan asli Indonesia. Damar menyebar di Maluku, Sulawesi, hingga ke Filipina (Palawan dan Samar). Di
Jawa, tumbuhan ini dibudidayakan untuk diambil
getah atau hars-nya. Getah damar ini diolah untuk dijadikan kopal. Kayu tanaman damar dapat dimanfaatkan sebagai
kayu pertukangan, namun akhir-akhir ini pemanfaatannya
dibatasi mengingat jumlah tanaman ini yang
tumbuh pada hutan alam semakin
berkurang. Selain itu tanaman tersebut menghasilkan resin yang diolah menjadi
kopal.
Pemanfaatan Damar :
Damar
teristimewa ditanam untuk diambil resinnya,
yang diolah menjadi
kopal. Resin ini adalah getah yang keluar tatkala kulit (pepagan) atau
kayu damar dilukai. Getah akan
mengalir keluar dan membeku setelah kena udara beberapa waktu lamanya. Lama-kelamaan getah ini akan
mengeras dan dapat dipanen; yang dikenal sebagai
kopal sadapan. Getah juga diperoleh dari deposit damar yang terbentuk dari luka-luka alami, di atas atau di bawah
tanah; jenis yang ini disebut kopal galian. Pada masa lalu resin damar terutama dihasilkan dari tegakan-tegakan
alam di Maluku dan Sulawesi. Kini
kopal juga dihasilkan dari hutan-hutan tanaman Perhutani di Jawa. Damar juga dapat dimanfaatkan sebagai
bahan emulsi (campuran) pewarna, cat, tinta,
aromatik, kosmetik. Selain itu damar juga dapat dipergunakan dalam bahan pembuatan
kapal boat, sedangkan
bila dicampur dengan kerosen dapat dipakai sebagai
bahan pengawet.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Hutan
adalah sebuah kawasan yang ditumbuhi dengan lebat oleh pepohonan dan tumbuhan
lainnya.
2. Penggunaan sumberdaya alam untuk masa mendatang
merupakan menjaga ketersediaan sumberdaya alam agar dapat dimanfaatkan di masa mendatang.
3. Meranti
merupakan salah satu kayu komersial yang sudah banyak dikenal oleh berbagai
negara Asia Tenggara dengan berbagai nama perdagangan, terutama jenis meranti merah (
Shorea spp. ).
4. Damar
( Agathis dammara ) merupakan jenis
tumbuhan yang termasuk dalam famili
Araucariaceae merupakan salah satu jenis tanaman hutan yang tumbuh secara alami di Papua.
5. Meranti
dan Damar merupakan bentuk contoh pohon dengan nilai ekonomis tinggi karena pemanfaatannya yang besar dan banyak dipakai
dalam produksi.
Sebaiknya praktikan harus lebih memahami
materi apa yang akan dibahas agar ketika melakukan praktikum lebih
mudah mempraktekkannya. Dan sebaiknya praktikum
dilakukan secara tatap muka supaya praktikan dapat memahami lebih dalam materi
yang diberikan oleh asisten.
DAFTAR PUSTAKA
Antoh, Frida, Sepus M. Fatem, dan Susanti Tasik. 2015. Pemanfaatan Damar Oleh Masyarakat di Kampung Bariat Distrik Konda Kabupaten Sorong Selatan. Jurnal Kehutanan Papuasia, 1(1) : 53-62.
Budiningsih, Kushartatian, Rachman Effendi. 2012. Analisis Finansial Hutan Tanaman Campuran Meranti Merah ( Shorea spp. ) dan Karet Rakyat ( Havea bransiliensis ) di Hinas Kiri Kalimantan Selatan. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, 9(4) : 233-240.
Cahyono, Deddy Dwi N. 2012. Pertumbuhan Semai Shorea leprosula Miq. Dari Berbagai Pohon Induk Asal Kalimantan Barat di Persemaian. Jurnal Penelitian Dipterokarpa, 6(1) : 23-30.
Damayatanti, Prawestya T. 2011. Upaya Pelestarian Hutan Melalui Pengelolaan Sumber Daya Hutan Bersama Masyarakat. Jurnal Komunitas, 3(1) : 70-82.
Fauzi. 2011. Analisis Nilai Ekonomi Sumber Daya Hutan Gayo Lues. Jurnal Ekonomi Hutan dan Masyarakat, 6(1) : 13-20.
Kosasih, A Syaffari. 2011. Pengaruh Jarak Tanam Pada
Pertumbuhan Tiga Jenis Meranti di Hutan Penelitian Haurbentes. Jurnal Penelitian
Dipterokarpa, 5(2)
: 1-10.
Sukendro, Andi, Eri Sugiarto. 2012. Respon Pertumbuhan Anakan Shorea leprosula Miq, Shorea mecistopteryx Ridley, Shorea ovalis (Korth) Blume dan Shorea selanica (DC) Blume terhadap Tingkat Intensitas Cahaya Matahari. Jurnal Silvikultur Tropika, 3(1) : 22-27.
Supriadi, Achmad,
Abdurachman. 2018. Sifat Pemesinan Lima Jenis Kayu Asal Riau.
Jurnal Penelitian Hasil Hutan, 36(2) : 85-94.
Tamin, Rike Puspitasari. 2017. Keanekaragaman Jenis Pohon Pada Tipe Ekosistem Hutan Hujan Tropis Dataran Rendah di Hutan Kampus Universitas Jambi Mendalo. Jurnal Ilmiah Ilmu Terapan Universitas Jambi, 1(1) : 85-92.
Yulizar, Agus H, Nandi K. 2014. Konservasi Damar Mata
Kucing ( Shorea javaniva ) Berbasis Masyarakat di Zona Tradisional
Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Jurnal Media Konservasi, 19(2) : 73-80.
.





Good👍
BalasHapus